CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Thursday, May 15, 2008

AKU DAN ANAKKU

ORANG TUA ADA UNTUK MENGAJAR ANAK, TETAPI JUGA HARUS MEMPELAJARI APA YANG DIAJARKAN ANAK KEPADA MEREKA; DAN BANYAK YANG DIAJARKAN ANAK KEPADA
MEREKA (Arnold Bennet)

Aceh luluh lantak. Kota itu benar-benar hancur, total. Gempa Tsunami talah menelannya. Banyak keluarga kehilangan sanak saudara, harta dan tempat tinggal. Masing-masing dari kami bergetar sendiri-sendiri di tempat kami duduk, menyaksikan berita di TV. Besok paginya, semua stasiun televisi menyiarkan ulang berita tersebut, saat itu ada tayangan yang membuatku miris. Seorang ibu muda berdiri terpekur di depan bangunan yg telah rata dg tanah, wajahnya sangat sedih. Disampingnya seorang anak laki-laki, umur 6 atau 7 thn, menoleh ke kamera TV dengan mata terbelalak ketakutan, tangannya mencengkeram rok ibu muda tsb. Di bagian bawah layar TV tertulis nomor rekening dan alamat untuk mengirimkan sumbangan.

Hatiku tergerak, aku akan menyumbangkan pakaian kami untuk mereka. Dan ini –menurutku- adalah kesempatan yang baik untuk mengajarkan kepada anak tunggalku Evan, 5,5th(saat kejadian), untuk membantu orang yang tak seberuntung dia. Aku katakan pada Evan, ”Kita punya banyak barang, tapi keluarga itu sudah nggak punya apa apa lagi. Sebagian dari punya kita, nanti kita sumbangkan untuk mereka. Ayo kita pilih barang-barang yang sudah nggak dipakai lagi”. Evan mengangguk setuju dan berlari kecil menuju kamarnya bersama Tari, pengasuh yang membantu kami sejak Evan lahir.
Aku mulai memilah pakaian yang akan kusumbangkan. 1 jam kemudian aku selesai memilih. Aku menuju ke kamar Evan, kulihat dia hanya berdiri di belakang Tari, menungguinya memasukkan mainan2 usangnya ke dalam kardus, sesaat Evan mendekat ke kardus, matanya menyorotkan kesedihan yg dalam dan matanya berkaca-kaca, sambil menggenggam empat koleksi hotwheelsnya di masing masing tangannya, ia ciumi berulang kali genggaman tangan kanan dan kirinya. Lalu diletakkannya seluruh koleksi hotwheels yg digenggamnya td, ke dalam kardus. Aku berpikir ia tidak ikhlas melepas mainannya. “Sayang, Evan nggak perlu beri mereka mobil mobilan hotwheels ini, kalo Evan masih pengen nyimpen,simpen aja ini kan koleksi kesayangan Evan. Kita sharing mainan yg lainnya aja ya?”
Ndak pa pa ma, mobil-mobil hotwheels ini kan, bikin aku happy. Jadi ta pikir, pasti anak yang di TV tadi juga happy kalo punya ini semua”.
Aku menelan ludah dengan susah. Lama kupandangi Evan. Sorot matanya Lugu. Polos. Seakan kata-kata yang barusan meluncur dari mulut mungilnya tadi sudah biasa ia ucapkan ribuan kali. Tari terbengong-bengong atas apa yang baru didengarnya...

Tiba tiba aku sadar, setiap orang dengan mudah bisa memberikan miliknya yg tidak ia perlukan lg. Kemurahan hati yang benar-benar tulus adalah memberikan sesuatu yang paling kita cintai. Kemurahan hati yg tulus telah ditunjukkan Evan dg memberikan mainan kesayangannya kepada anak lain yg tidak dikenalnya dg harapan anak malang tsb merasakan kegembiraan seperti yg dirasakannya.

Aku yang ingin memberi pelajaran telah diberi pelajaran.
Sejurus kemudian pelan tapi pasti, kulihat senyum di wajah Evan. Matanya berbinar. Aku takjub pada anakku satu satunya. Ia begitu memahami tindakannya.

Mengikuti apa yg telah dilakukan Evan, aku mengambil jaket kulit kesayangannku dan memasukkannya ke kardus bersama sweater hijau muda yg kubeli dg harga diskon, seminggu sebelum tsunami memporak porandakan Aceh.

Kuberharap siapapun yang menerima sumbangan kami, akan menyukai barang-barang seperti kami menyukainya.

0 comments: