CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Thursday, May 22, 2008

EVAN'S WISHLIST


About 1,5 years ago, when I'm cleaned up Evans desk at his room I found a paper -kind a wishlist- was decorated by him. I read and I'm touched with his word. Then I kept it back to his folder, where he always kept his lesson project at class.
Last night both of us were busy to looking for the pointers for next exam. I opened all folders 'till I met the wishlist, again. In next minute Evan yelled that the pointers was found in his school bag. I smile to him then looked back to the wishlist. I smile by myself. The wishlist, contains desires and hopes in 7 yrs old boy words. My boy...

  • at that time -till now- Evan still have a dog. 2 yrs old golden retriever, named is brinkley. Also 1 brother and 2 sister cousin.
  • Remembering now, Evan in 48kg with 4,5ft height. I still decided try kept say no to fried chicken and kind of it.
  • Grandpa-ma Ngagel are my parents and grandpa-ma Perak are my parents in law. The name took from the area they lived. I truly understand what Evan wants 'bout togetherness, bcause he only knew my grandmother or his grandgrandmother, 84 yrs old -. They're pretty closed.

Kira-kira 1,5 thn yg lalu aku menemukan lembaran kertas -semcm wishlist- yang telah di decorate oleh Evan, ketika sedang merapikan meja belajarnya, saat itu -setelah kubaca dan terharu atas isinya- aku simpan kembali lembaran tsb ke folder tempat ia menyimpan hasil pekerjaannya di kelas.
Semalam, kami berdua sibuk mencari edaran dari sekolah yang isinya pointers-pointers untuk UAS mendatang. Ketika membongkar semua foldernya, aku bertemu kembali dengan wishlist tersebut. Tak lama kemudian Evan bersorak, ternyata lembaran pointers yang dia cari ada di saku dalam tas sekolahnya. Aku kaget dan kembali menyungging senyum, memandangi lembaran wishlistnya. Wishlist yang berisi keinginan yang belum terwujud dan harapan dalam keluguan pikiran seorang bocah usia 7th...

  • saat itu-sampai skrg- Evan msh memelihara Brinkley, anjing jenis golden retriever berumur 2th. Dan telah mempunyai 3 saudara sepupu, tetapi kami tetap membatasi kebiasaannya makan fried chiken. Mengingat berat badannya yg 48kg dg tinggi 140cm.
  • Grandpa-ma ngagel adlh orangtua sy, sedangkan grandpa-ma perak adlh mertua sy. Sy memahami keinginan evan tentang kebersamaannya bersama kakek-neneknya, mengingat sy dan suami kini hanya memiliki nenek dari pihak ayah & ibu kami masing2.

Wednesday, May 21, 2008

FRIEND OF MINE

"FRIEND of MINE"
Like the freshness of a mountains...
Scent of pines in the air...
I don't see transparent wings
Yet I know my angels is there...
She doesn't fly...
as sometimes angels do...
There's no skepticism at all
The angels I meant is you...
...so kind n' very loyal
You're I dearly love
Sent for me to cherish
From heaven up above...
I'm so sorry can't keep you alive
But I know you're very happy now...
feel free...free from ill
free from sadness
I just want you to know...
We're close friend n' we'll always be...
(in memoriam Carla,3mth.passed away May'16'08.our lovely puppy)

Tuesday, May 20, 2008

CYBER STEP-MOTHER

I've often felt that "step-parent" is a label we attach to men and women who marry into families where children already exist, for the simple reason that we need to call them something. It is most certainly an enormous "step", but one doesn't often feel as if the term "parent" truly applies. At least that's how I used to feel about being a step-mother to my husband's four children.

My husband and I had been together for six years, and with him I had watched as his young children became young teenagers. Although they lived primarily with their mother, they spent a lot of time with us as well. Over the years, we all learned to adjust, to become more comfortable with each other, and to adapt to our new family arrangement. We enjoyed vacations together, ate family meals, worked on homework, played baseball, rented videos. However, I continued to feel somewhat like an outsider, infringing upon foreign territory. There was a definite boundary line that could not be crossed, an inner family circle which excluded me. Since I had no children of my own, my experience of parenting was limited to my husband's four, and often I lamented that I would never know the special bond that exists between a parent and a child.

When the children moved to a town five hours away, my husband was understandably devastated. In order to maintain regular communication with the kids, we contacted Cyberspace and promptly set up an e-mail and chat-line service. This technology, combined with the telephone, would enable us to reach them on a daily basis by sending frequent notes and messages, and even chatting together when we were all on-line.
Ironically, these modern tools of communication can also be tools of alienation, making us feel so out of touch, so much more in need of real human contact. If a computer message came addressed to "Dad", I'd feel forgotten and neglected. If my name appeared along with his, it would brighten my day and make me feel like I was part of their family unit after all. Yet always there was some distance to be crossed, not just over the telephone wires.

Late one evening, as my husband snoozed in front of the television and I was catching up on my e-mail, an "instant message" appeared on the screen. It was Margo, my oldest step-daughter, also up late and sitting in front of her computer five hours away. As we had done in the past, we sent several messages back and forth, exchanging the latest news. When we would "chat" like that, she wouldn't necessarily know if it was me or her dad on the other end of the keyboard--that is unless she asked. That night she didn't ask and I didn't identify myself either. After hearing the latest volleyball scores, the details about an upcoming dance at her school, and a history project that was in the works, I commented that it was late and I should get to sleep. Her return message read, "Okay, talk to you later! Love you!"

As I read this message, a wave of sadness ran through me and I realized that she must have thought she was writing to her father the whole time. She and I would never have openly exchanged such words of affection. Feeling guilty for not clarifying, yet not wanting to embarrass her, I simply responded, "Love you too! Have a good sleep!"

I thought again of their family circle, that self-contained, private space where I was an intruder. I felt again the sharp ache of emptiness and otherness. Then, just as my fingers reached for the keys, just as I was about to return the screen to black, Margo's final message appeared. It read, "Tell Dad good night for me too." With tear-filled, blurry eyes, I turned the machine off.

by Judy E. Carter
Excerpted from Chicken Soup for the Parent's Soul and reprinted by permission of Judy E. Carter. ©1999 Judy E. Carter

Friday, May 16, 2008

...We luv ya, all...

Thursday, May 15, 2008

AKU DAN ANAKKU

ORANG TUA ADA UNTUK MENGAJAR ANAK, TETAPI JUGA HARUS MEMPELAJARI APA YANG DIAJARKAN ANAK KEPADA MEREKA; DAN BANYAK YANG DIAJARKAN ANAK KEPADA
MEREKA (Arnold Bennet)

Aceh luluh lantak. Kota itu benar-benar hancur, total. Gempa Tsunami talah menelannya. Banyak keluarga kehilangan sanak saudara, harta dan tempat tinggal. Masing-masing dari kami bergetar sendiri-sendiri di tempat kami duduk, menyaksikan berita di TV. Besok paginya, semua stasiun televisi menyiarkan ulang berita tersebut, saat itu ada tayangan yang membuatku miris. Seorang ibu muda berdiri terpekur di depan bangunan yg telah rata dg tanah, wajahnya sangat sedih. Disampingnya seorang anak laki-laki, umur 6 atau 7 thn, menoleh ke kamera TV dengan mata terbelalak ketakutan, tangannya mencengkeram rok ibu muda tsb. Di bagian bawah layar TV tertulis nomor rekening dan alamat untuk mengirimkan sumbangan.

Hatiku tergerak, aku akan menyumbangkan pakaian kami untuk mereka. Dan ini –menurutku- adalah kesempatan yang baik untuk mengajarkan kepada anak tunggalku Evan, 5,5th(saat kejadian), untuk membantu orang yang tak seberuntung dia. Aku katakan pada Evan, ”Kita punya banyak barang, tapi keluarga itu sudah nggak punya apa apa lagi. Sebagian dari punya kita, nanti kita sumbangkan untuk mereka. Ayo kita pilih barang-barang yang sudah nggak dipakai lagi”. Evan mengangguk setuju dan berlari kecil menuju kamarnya bersama Tari, pengasuh yang membantu kami sejak Evan lahir.
Aku mulai memilah pakaian yang akan kusumbangkan. 1 jam kemudian aku selesai memilih. Aku menuju ke kamar Evan, kulihat dia hanya berdiri di belakang Tari, menungguinya memasukkan mainan2 usangnya ke dalam kardus, sesaat Evan mendekat ke kardus, matanya menyorotkan kesedihan yg dalam dan matanya berkaca-kaca, sambil menggenggam empat koleksi hotwheelsnya di masing masing tangannya, ia ciumi berulang kali genggaman tangan kanan dan kirinya. Lalu diletakkannya seluruh koleksi hotwheels yg digenggamnya td, ke dalam kardus. Aku berpikir ia tidak ikhlas melepas mainannya. “Sayang, Evan nggak perlu beri mereka mobil mobilan hotwheels ini, kalo Evan masih pengen nyimpen,simpen aja ini kan koleksi kesayangan Evan. Kita sharing mainan yg lainnya aja ya?”
Ndak pa pa ma, mobil-mobil hotwheels ini kan, bikin aku happy. Jadi ta pikir, pasti anak yang di TV tadi juga happy kalo punya ini semua”.
Aku menelan ludah dengan susah. Lama kupandangi Evan. Sorot matanya Lugu. Polos. Seakan kata-kata yang barusan meluncur dari mulut mungilnya tadi sudah biasa ia ucapkan ribuan kali. Tari terbengong-bengong atas apa yang baru didengarnya...

Tiba tiba aku sadar, setiap orang dengan mudah bisa memberikan miliknya yg tidak ia perlukan lg. Kemurahan hati yang benar-benar tulus adalah memberikan sesuatu yang paling kita cintai. Kemurahan hati yg tulus telah ditunjukkan Evan dg memberikan mainan kesayangannya kepada anak lain yg tidak dikenalnya dg harapan anak malang tsb merasakan kegembiraan seperti yg dirasakannya.

Aku yang ingin memberi pelajaran telah diberi pelajaran.
Sejurus kemudian pelan tapi pasti, kulihat senyum di wajah Evan. Matanya berbinar. Aku takjub pada anakku satu satunya. Ia begitu memahami tindakannya.

Mengikuti apa yg telah dilakukan Evan, aku mengambil jaket kulit kesayangannku dan memasukkannya ke kardus bersama sweater hijau muda yg kubeli dg harga diskon, seminggu sebelum tsunami memporak porandakan Aceh.

Kuberharap siapapun yang menerima sumbangan kami, akan menyukai barang-barang seperti kami menyukainya.

Wednesday, May 14, 2008

10 KUALITAS PRIBADI YG DISUKA...

Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karenayakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruksekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan oranglain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih sukamencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidakharus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yangbertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percayadiri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Diatahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa bencidan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalahyang berada di luar kontrolnya.

Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Artikel dikutip dari Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung