CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Sunday, October 26, 2008

Monthly gathering ex santa maria '89 (oct '08)

Standing : Ira, Pipiet, Poppy, Ima, Lies, Maya, Herlin, Punq.
Sitting : Grace, Ida, Lucky, Cheppy, Fatma, Rensy.


With Lucky and Ima

Evan di pura beberapa saat sebelum sembahyang pada hari raya Galungan.



I luv u beybeh..!!!!


Sunday, September 28, 2008

Met lebaran, Friends...

MINAL AIDIN WAL FAIZIN....



HAPPY EID !!!

Monday, July 14, 2008

LAST HOLIDAYS...




















Monday, June 30, 2008

WHICH ONE IS REALLY HIS AUNTY??

Posted by Picasa

BERSAMA KITA BISA LEWATI SEMUANYA

Oleh Dan Clark
(Sebuah pengalaman hidup)
Bob Butler kehilangan kedua kakinya karena ledakan ranjau saat perang Vietnam tahun 1965. Dia pulang sebagai seorang pahlawan perang. Dua puluh tahun kemudian, dia membuktikan bahwa heroisme itu datang dari dalam hati. Butler sedang bekerja di dalam garasi di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu hari di musim panas. Saat itu dia mendengar teriakan histeris seorang wanita dari belakang rumah tetangganya. Dia mengayuh kursi rodanya ke rumah itu dan menuju ke halaman belakang. Tetapi ada pagar terkunci yang tidak memungkinkan kursi roda itu lewat. Veteran itu kemudian turun dari kursi, melompati pagar dengan kedua tangannya dan merayap dengan secepatnya melewati semak dan rerumputan. “Saya harus segera sampai ke sana ,” katanya. “Tidak peduli apakah itu akan menyakitkan dan melukai tubuhku sendiri.” Saat Butler sampai di belakang rumah, dia mengikuti teriakan itu sampai ke kolam renang, dimana ada seorang anak perempuan berumur tiga tahun yang tergeletak di dasar kolam. Anak itu lahir dengan tidak memiliki kedua lengan, jatuh ke kolam renang dan tidak bisa berenang. Ibunya berdiri di tepi kolam sambil berteriak histeris. Butler segera menyelam ke dasar kolam renang dan membawa Stephanie keluar. Wajahnya telah kebiruan, tidak ada detak jantung dan tidak bernafas. Butler segera memberi nafas buatan saat ibu Stephanie menelpon departemen pemadam kebakaran (911). Dia bilang semua petugas pemadam kebakaran sedang bertugas keluar, dan tidak ada petugas di kantor. Dengan tanpa harapan, dia menangis dan memeluk bahu Butler . Sambil meneruskan memberi nafas buatan, Butler menenangkan ibunya Stpehanie. “Jangan kuatir,” katanya. “Saya sudah menjadi tangannya untuk membawanya keluar dari kolam. Dia akan baik-baik saja. Sekarang saya sedang menjadi paru-parunya. Bersama kita akan bisa melewatinya.”
Dua menit kemudian gadis kecil itu batuk-batuk, siuman kembali dan mulai menangis. Ketika mereka berpelukan dan bersyukur, ibunya Stephanie bertanya bagaimana Butler bisa tahu bahwa semua akan bisa diatasi dengan baik. “Saat kedua kaki saya meledak di perang Vietnam, saya seorang diri di tengah lapangan,” Butler bercerita. “Tidak ada seorang pun yang mau datang untuk menolong, kecuali seorang anak perempuan Vietnam. Dengan susah payah dia menyeret tubuh saya ke desa, dan dia berbisik dengan bahasa Inggrisnya yang terpatah-patah, ‘Semuanya OK. Kamu bisa hidup. Saya menjadi kakimu. Bersama kita bisa melewati semuanya.’ ”
“Sekarang ini giliran saya,” kata Butler kepada ibunya Stephanie, “Untuk membalas semua yang sudah saya terima.”

Friday, June 06, 2008

CINTA TANPA SYARAT

(based on True Story...)
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi,Pak Suyatno,58th kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Mereka telah selama menikah 32 tahun.Mereka dikarunia 4 orang anak, disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak dapat digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnyapun sudah tidak dapat digerakkan lagi.Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi,dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia selalu pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sore, sepulang dari tempat usahanya, beliau memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya menonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.Walaupun istrinya hanya bisa memandang dan tak dapat menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, 3 diantaranya telah tinggal dengan keluarga masing2, hanya si bungsu yang masih kuliah.Pak Suyatno memutuskan untuk merawat sendiri istrinya, yang dia inginkan hanya satu, semua anaknya berhasil.Pada suatu hari ke empat anaknya berkumpul dirumahnya, sambil menjenguk ibunya. Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak sulungnya berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, sejak kecil, kami melihat bapak merawat ibu dan tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak...bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".--Dengan mata berkaca anak sulung melanjutkan--,"sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini. Kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian".
Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya. "Anak-anakku, Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah......tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..-(sejenak kerongkongannya tersekat)-..kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Sejenak kemudian suasana haru semakin merona di ruangan tersebut, anak-anak pak suyatno saling meneteskan airmata dan tercekat, tak mampu lagi berkata-kata, merekapun melihat butiran-butiran kecil mengalir dipelupuk mata ibu mereka...yang dengan tatapan pilu sedang menatap mata suami yang sangat dicintainya itu..
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber. Merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno rahasia apa hingga mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa...saat itulah untuk pertama kalinya beliau menangis, di hadapan tamu yang hadir di studio (yang kebanyakan kaum perempuan).Disitulah Pak Suyatno bercerita,"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi -(memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian)-, itu adalah kesia-siaan. Saya telah memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan mata hatinya dan mata batinnya, dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu dan pandai-pandai.Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen kami untuk saling mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi dia sakit...."

Thursday, June 05, 2008

4 TIPE MANUSIA UNTUK HADAPI TEKANAN HIDUP

“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh”
(John Gray)

Teman-temanku, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog, Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini: masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Yang kemudian dapat dikelompokkan sbb:

Tipe pertama, tipe kayu rapuh.
Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.

Tipe kedua, tipe lempeng besi.
Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau usaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.

Tipe ketiga, tipe kapas.
Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi.Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.

Tipe keempat, tipe bola pingpong.
Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat.
Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya. Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Hoini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.

Nah, uraian diatas hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda? Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini.Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?
Atau mungkin anda sudah ada tahu, di level mana saat ini anda berada??

Sumber: 4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup oleh Anthony Dio Martin

Wednesday, June 04, 2008

ANGER MANAGEMENT

Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar.
Seseorang yang tidak bisa merasa marah -tidak bisa disebut penyabar; karena dia hanya tidak bisa marah.
Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar.
Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu-sulit, Anda sangat tepat; karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas.
Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat.
Perhatikanlah bahwa kita lebih sering menderita karena kemarahan kita, daripada karena hal-hal yang membuat kita merasa marah. Perhatikanlah juga bahwa kemarahan kita sering melambung lebih tinggi daripada nilai dari sesuatu yang menyebabkan kemarahan kita itu, sehingga kita sering bereaksi berlebihan dalam kemarahan.
Hanya karena Anda menyadari dengan baik tentang kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi Anda dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apa pun yang membuat Anda merasa marah. Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itu lah yang menjadikan Anda tampil sabar.
Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu.
Nafsu adalah kekuatan yang tidak pernah netral, karena ia hanya mempunyai dua arah gerak; yaitu bila ia tidakmemuliakan,pasti iamenghinakan.
Nafsu juga bersifat dinamis, karena ia menolak untuk berlaku tenang bila Anda merasa tenang. Ia akan selalu memperbaruhi kekuatannya untuk membuat Anda memperbaruhi kemapanan Anda.
Maka perhatikanlah ini dengan cermat; bila Anda berpikir dengan jernih dalam memilih tindakan dan cara bertindak dalam kemarahan, nafsu itu akan menjadi kekuatan Anda untuk meninggalkan kemapananAndayang sekarang -untuk menuju sebuah kemapanan baru yang lebih tinggi.
Tetapi, bila Anda berlaku sebaliknya, maka ke bawahlah arah pembaruan dari kemapanan Anda.
Itu sebabnya, kita sering menyaksikan seorang berkedudukan tinggi yang terlontarkan dari tingkat kemapanannya, dan kemudian direndahkan karena dia tidak berpikir jernih dalam kemarahan.
Dan bila nafsunya telah menjadikannya seorang yang tidak bisa direndahkan lagi, dia disebut sebagai budak nafsu.
Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda.
Kebijakan para pendahulu kita telah menggariskan bahwa untuk menjadi marah itu mudah, dan patut bagi semua orang. Tetapi, untuk bisa marah kepada orang yang tepat, karena sebab yang tepat, untuk tujuan yang tepat, pada tingkat kemarahan yang tepat, dan dengan cara yang tepat -itu tidak untuk orang-orang kecil.
Maka seberapa besar-kah Anda menginginkan diri Anda jadinya?
Memang pernah ada orang yang mengatakan bahwa siapa pun yang membuat Anda marah-telah mengalahkan Anda. Pengamatan itu tepat-hanya bila Anda mengijinkan diri Anda berlaku dengan cara-cara yang merendahkan diri Anda sendiri karena kemarahan yang disebabkan oleh orang itu.
Itu sebabnya, salah satu cara untuk membesarkan diri adalah menghindari sikap dan perilaku yang mengecilkan diri.
Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.
Perhatikanlah, bahwa orang tua yang sering marah kepada anak-anaknya yang bertengkar -adalah orang tua yang juga sering bertengkar dengan pasangannya.
Bila kita cukup adil kepada diri kita sendiri, dan m ampu untuk sekejap menikmati kedamaian kita akan melihat dengan jelas bahwa kita sering menuntut orang lain untuk berlaku seperti yang tidak kita lakukan.
Dan dengannya, bukankah kemarahan Anda juga penunjuk jalan bagi Anda untuk menemukan perilaku-perilaku baik yang sudah Anda tuntutdariorang lain,tetapi yang masih belum Anda lakukan?
Lalu, mengapakah Anda berlama-lama dalam kemarahan yang sebetulnya adalah tanda yang nyata bahwa Anda belum memperbaiki diri?
Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah.
Bila Anda seorang pemimpin, dan Anda telah menerima tugas untuk meninggikan orang lain; maka tidak ada badai, gempa, atau air bah yang bisa membuat Anda mengurangi nilai Anda bagi kepantasan untuk mengemban tugas itu.
Ingatlah, bahwa orang-orang yang berupaya mengecilkan Anda itu-adalah sebetulnya orang-orang kecil.
Karena, orang-orang besar akan sangat berhati-hati dengan perasaan hormat Anda kepada diri Anda sendiri. Bila mereka marah pun kepada Anda, mereka akan berlaku dengan cara-cara yang mengundang Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sedangkan orang kecil? Orang-orang kecil membuat orang lain merasa kecil agar mereka bisa merasa besar.
Anda mengetahui kebesaran yang dijanjikan untuk Anda. Maka besarkan-lah orang lain.
(Sumber: Mario Teguh, MSTS 13.07.2006)

Thursday, May 22, 2008

EVAN'S WISHLIST


About 1,5 years ago, when I'm cleaned up Evans desk at his room I found a paper -kind a wishlist- was decorated by him. I read and I'm touched with his word. Then I kept it back to his folder, where he always kept his lesson project at class.
Last night both of us were busy to looking for the pointers for next exam. I opened all folders 'till I met the wishlist, again. In next minute Evan yelled that the pointers was found in his school bag. I smile to him then looked back to the wishlist. I smile by myself. The wishlist, contains desires and hopes in 7 yrs old boy words. My boy...

  • at that time -till now- Evan still have a dog. 2 yrs old golden retriever, named is brinkley. Also 1 brother and 2 sister cousin.
  • Remembering now, Evan in 48kg with 4,5ft height. I still decided try kept say no to fried chicken and kind of it.
  • Grandpa-ma Ngagel are my parents and grandpa-ma Perak are my parents in law. The name took from the area they lived. I truly understand what Evan wants 'bout togetherness, bcause he only knew my grandmother or his grandgrandmother, 84 yrs old -. They're pretty closed.

Kira-kira 1,5 thn yg lalu aku menemukan lembaran kertas -semcm wishlist- yang telah di decorate oleh Evan, ketika sedang merapikan meja belajarnya, saat itu -setelah kubaca dan terharu atas isinya- aku simpan kembali lembaran tsb ke folder tempat ia menyimpan hasil pekerjaannya di kelas.
Semalam, kami berdua sibuk mencari edaran dari sekolah yang isinya pointers-pointers untuk UAS mendatang. Ketika membongkar semua foldernya, aku bertemu kembali dengan wishlist tersebut. Tak lama kemudian Evan bersorak, ternyata lembaran pointers yang dia cari ada di saku dalam tas sekolahnya. Aku kaget dan kembali menyungging senyum, memandangi lembaran wishlistnya. Wishlist yang berisi keinginan yang belum terwujud dan harapan dalam keluguan pikiran seorang bocah usia 7th...

  • saat itu-sampai skrg- Evan msh memelihara Brinkley, anjing jenis golden retriever berumur 2th. Dan telah mempunyai 3 saudara sepupu, tetapi kami tetap membatasi kebiasaannya makan fried chiken. Mengingat berat badannya yg 48kg dg tinggi 140cm.
  • Grandpa-ma ngagel adlh orangtua sy, sedangkan grandpa-ma perak adlh mertua sy. Sy memahami keinginan evan tentang kebersamaannya bersama kakek-neneknya, mengingat sy dan suami kini hanya memiliki nenek dari pihak ayah & ibu kami masing2.

Wednesday, May 21, 2008

FRIEND OF MINE

"FRIEND of MINE"
Like the freshness of a mountains...
Scent of pines in the air...
I don't see transparent wings
Yet I know my angels is there...
She doesn't fly...
as sometimes angels do...
There's no skepticism at all
The angels I meant is you...
...so kind n' very loyal
You're I dearly love
Sent for me to cherish
From heaven up above...
I'm so sorry can't keep you alive
But I know you're very happy now...
feel free...free from ill
free from sadness
I just want you to know...
We're close friend n' we'll always be...
(in memoriam Carla,3mth.passed away May'16'08.our lovely puppy)

Tuesday, May 20, 2008

CYBER STEP-MOTHER

I've often felt that "step-parent" is a label we attach to men and women who marry into families where children already exist, for the simple reason that we need to call them something. It is most certainly an enormous "step", but one doesn't often feel as if the term "parent" truly applies. At least that's how I used to feel about being a step-mother to my husband's four children.

My husband and I had been together for six years, and with him I had watched as his young children became young teenagers. Although they lived primarily with their mother, they spent a lot of time with us as well. Over the years, we all learned to adjust, to become more comfortable with each other, and to adapt to our new family arrangement. We enjoyed vacations together, ate family meals, worked on homework, played baseball, rented videos. However, I continued to feel somewhat like an outsider, infringing upon foreign territory. There was a definite boundary line that could not be crossed, an inner family circle which excluded me. Since I had no children of my own, my experience of parenting was limited to my husband's four, and often I lamented that I would never know the special bond that exists between a parent and a child.

When the children moved to a town five hours away, my husband was understandably devastated. In order to maintain regular communication with the kids, we contacted Cyberspace and promptly set up an e-mail and chat-line service. This technology, combined with the telephone, would enable us to reach them on a daily basis by sending frequent notes and messages, and even chatting together when we were all on-line.
Ironically, these modern tools of communication can also be tools of alienation, making us feel so out of touch, so much more in need of real human contact. If a computer message came addressed to "Dad", I'd feel forgotten and neglected. If my name appeared along with his, it would brighten my day and make me feel like I was part of their family unit after all. Yet always there was some distance to be crossed, not just over the telephone wires.

Late one evening, as my husband snoozed in front of the television and I was catching up on my e-mail, an "instant message" appeared on the screen. It was Margo, my oldest step-daughter, also up late and sitting in front of her computer five hours away. As we had done in the past, we sent several messages back and forth, exchanging the latest news. When we would "chat" like that, she wouldn't necessarily know if it was me or her dad on the other end of the keyboard--that is unless she asked. That night she didn't ask and I didn't identify myself either. After hearing the latest volleyball scores, the details about an upcoming dance at her school, and a history project that was in the works, I commented that it was late and I should get to sleep. Her return message read, "Okay, talk to you later! Love you!"

As I read this message, a wave of sadness ran through me and I realized that she must have thought she was writing to her father the whole time. She and I would never have openly exchanged such words of affection. Feeling guilty for not clarifying, yet not wanting to embarrass her, I simply responded, "Love you too! Have a good sleep!"

I thought again of their family circle, that self-contained, private space where I was an intruder. I felt again the sharp ache of emptiness and otherness. Then, just as my fingers reached for the keys, just as I was about to return the screen to black, Margo's final message appeared. It read, "Tell Dad good night for me too." With tear-filled, blurry eyes, I turned the machine off.

by Judy E. Carter
Excerpted from Chicken Soup for the Parent's Soul and reprinted by permission of Judy E. Carter. ©1999 Judy E. Carter

Friday, May 16, 2008

...We luv ya, all...

Thursday, May 15, 2008

AKU DAN ANAKKU

ORANG TUA ADA UNTUK MENGAJAR ANAK, TETAPI JUGA HARUS MEMPELAJARI APA YANG DIAJARKAN ANAK KEPADA MEREKA; DAN BANYAK YANG DIAJARKAN ANAK KEPADA
MEREKA (Arnold Bennet)

Aceh luluh lantak. Kota itu benar-benar hancur, total. Gempa Tsunami talah menelannya. Banyak keluarga kehilangan sanak saudara, harta dan tempat tinggal. Masing-masing dari kami bergetar sendiri-sendiri di tempat kami duduk, menyaksikan berita di TV. Besok paginya, semua stasiun televisi menyiarkan ulang berita tersebut, saat itu ada tayangan yang membuatku miris. Seorang ibu muda berdiri terpekur di depan bangunan yg telah rata dg tanah, wajahnya sangat sedih. Disampingnya seorang anak laki-laki, umur 6 atau 7 thn, menoleh ke kamera TV dengan mata terbelalak ketakutan, tangannya mencengkeram rok ibu muda tsb. Di bagian bawah layar TV tertulis nomor rekening dan alamat untuk mengirimkan sumbangan.

Hatiku tergerak, aku akan menyumbangkan pakaian kami untuk mereka. Dan ini –menurutku- adalah kesempatan yang baik untuk mengajarkan kepada anak tunggalku Evan, 5,5th(saat kejadian), untuk membantu orang yang tak seberuntung dia. Aku katakan pada Evan, ”Kita punya banyak barang, tapi keluarga itu sudah nggak punya apa apa lagi. Sebagian dari punya kita, nanti kita sumbangkan untuk mereka. Ayo kita pilih barang-barang yang sudah nggak dipakai lagi”. Evan mengangguk setuju dan berlari kecil menuju kamarnya bersama Tari, pengasuh yang membantu kami sejak Evan lahir.
Aku mulai memilah pakaian yang akan kusumbangkan. 1 jam kemudian aku selesai memilih. Aku menuju ke kamar Evan, kulihat dia hanya berdiri di belakang Tari, menungguinya memasukkan mainan2 usangnya ke dalam kardus, sesaat Evan mendekat ke kardus, matanya menyorotkan kesedihan yg dalam dan matanya berkaca-kaca, sambil menggenggam empat koleksi hotwheelsnya di masing masing tangannya, ia ciumi berulang kali genggaman tangan kanan dan kirinya. Lalu diletakkannya seluruh koleksi hotwheels yg digenggamnya td, ke dalam kardus. Aku berpikir ia tidak ikhlas melepas mainannya. “Sayang, Evan nggak perlu beri mereka mobil mobilan hotwheels ini, kalo Evan masih pengen nyimpen,simpen aja ini kan koleksi kesayangan Evan. Kita sharing mainan yg lainnya aja ya?”
Ndak pa pa ma, mobil-mobil hotwheels ini kan, bikin aku happy. Jadi ta pikir, pasti anak yang di TV tadi juga happy kalo punya ini semua”.
Aku menelan ludah dengan susah. Lama kupandangi Evan. Sorot matanya Lugu. Polos. Seakan kata-kata yang barusan meluncur dari mulut mungilnya tadi sudah biasa ia ucapkan ribuan kali. Tari terbengong-bengong atas apa yang baru didengarnya...

Tiba tiba aku sadar, setiap orang dengan mudah bisa memberikan miliknya yg tidak ia perlukan lg. Kemurahan hati yang benar-benar tulus adalah memberikan sesuatu yang paling kita cintai. Kemurahan hati yg tulus telah ditunjukkan Evan dg memberikan mainan kesayangannya kepada anak lain yg tidak dikenalnya dg harapan anak malang tsb merasakan kegembiraan seperti yg dirasakannya.

Aku yang ingin memberi pelajaran telah diberi pelajaran.
Sejurus kemudian pelan tapi pasti, kulihat senyum di wajah Evan. Matanya berbinar. Aku takjub pada anakku satu satunya. Ia begitu memahami tindakannya.

Mengikuti apa yg telah dilakukan Evan, aku mengambil jaket kulit kesayangannku dan memasukkannya ke kardus bersama sweater hijau muda yg kubeli dg harga diskon, seminggu sebelum tsunami memporak porandakan Aceh.

Kuberharap siapapun yang menerima sumbangan kami, akan menyukai barang-barang seperti kami menyukainya.

Wednesday, May 14, 2008

10 KUALITAS PRIBADI YG DISUKA...

Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karenayakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruksekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan oranglain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih sukamencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidakharus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yangbertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percayadiri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Diatahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa bencidan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalahyang berada di luar kontrolnya.

Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Artikel dikutip dari Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung